tentang menyelami diri

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Maret 2023

Mengapa Aku Menjadi Guru


Pertanyaan yang mendalam bagiku. Sampai pada beberapa kesempatan tak bisa kuucapkan rinci dalam verbal. Bagaimana tidak, pemaknaan ini melibatkan pengalaman hidupku sejak kecil. Secara fisik, semua berawal saat aku melihat saudara-saudara ibu yang menjadi guru sedangkan ibuku tidak. Begitupun dengan bapak, mengenyam pendidikan guru tetapi tidak berjodoh dengan profesi ini. Seorang guru dalam pandanganku saat masih kecil adalah pekerjaan yang cukup keren karena memakai seragam dan sepatu hak tinggi. Sandal jinjit adalah sebutanku untuk sepatu hak tinggi saat itu. Ibu pernah bercerita, saat belum memasuki usia sekolah aku bermain ke rumah budhe dan memakai sandal jinjit sambil berceloteh, "Buk, gawe sandal jinjit ben dadi guru."  Lalu seluruh keluarga dalam ruangan tertawa 😂 

Lingkungan tempat tinggalku juga dekat dengan sekolah. Setiap hari mengamati bagaimana lalu lalang orang tua yang mengantar dan menjemput anak, bagaimana tingkah anak-anak sekolah, dan apa saja kegiatan guru di sekolah. Saat jenjang sekolah dasar aku juga bersekolah di sini. Terlepas bagaimana peran bapak, setidaknya aku sendiri terlibat uluk salam mengingat perjuangan leluhur demi kepentingan pendidikan di lingkungan sekitar. Sekolah yang berada di samping rumah hanya berbatas tembok dan dulu belum setinggi garasi truk yang berada di depan. Masa kecilku yang tomboi memilih berangkat dan pulang sekolah dengan melompat tembok samping saja daripada berjalan ke depan melewati gerbang sekolah 😅

Memasuki jenjang sekolah menengah pertama, aku bersekolah di kota yang berjarak 15 kilometer dari rumah. Aku diajarkan untuk belajar mandiri di pesantren. Jarak pesantren ke sekolah sekitar 700 meter. Aku yang paling kecil saat itu, menstruasi saja belum. Saat mengikuti kegiatan mengaji kitab juga sering tertidur. Melihat mbak-mbak santri di jenjang sekolah menengah atas dan perguruan tinggi memiliki kompor dan sering memasak, aku meminta untuk dibelikan kompor dan peralatan memasak. Namun, kompor yang diberikan bapak berukuran jauh lebih kecil dan bersumbu pendek dibandingkan yang lain. Warna kompor itu biru, dari kejauhan seperti kompor mainan. Kupakai untuk pertama kali memasak nasi, ngetim, tetapi gosong karena belum bisa mengukur kapan nasi ini matang 😑

Saat kelas 9 aku mendapat tugas dari Bu Nyai untuk mengurus dua anak kecil kakak adik setiap pulang sekolah. Anak perempuan kelas 1 SD dan anak laki-laki TK kecil. Setiap pulang sekolah aku bergegas memandikan mereka berdua, memakaikan baju, mengambilkan makanan di ndalem dan terkadang menyuapi, serta menemani mereka belajar. Mengurus mereka sangat mengaduk-aduk kesabaranku. Jujur saja, seusia mereka aku sudah melakukan aktifitas tersebut sendiri kecuali menyiapkan makanan. Saat adzan ashar berkumandang, aku meninggalkan mereka untuk berjamaah lalu mengikuti kegiatan mengaji di masjid. Sekitar pukul 5 sore ayah kedua anak itu menjemput. Dulu aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku yang kecil mendapat tugas mengurus anak kecil, mengapa bukan mbak santri yang lebih cakap dan dewasa atau santri ndalem. Ternyata, pengalaman sebentar itu yang kini membuatku mengerti tentang arti ibu dan guru. Al-Fatihah untuk Bu Nyai 💚

Ada hal yang membuatku berbelok arah setelah jenjang sekolah menengah kejuruan menuju perguruan tinggi. Aku memilih jurusan apa yang menjadi kesukaanku dan bertanggung jawab atas itu. Memang semua tidak semudah membalikkan telapak tangan apalagi di tengah gempuran masa puber yang penuh ambisi dan idealisme, tetapi itulah serangkaian proses pendewasaan yang membuatku tidak sembarangan dalam memutuskan sesuatu. Guru bahasa Indonesia dan guru seni budaya di sekolah sangat menginspirasi, aku juga menemu keindahan itu 💚 

Guru bagiku adalah profesi mulia. Sebuah kontribusi di dunia pendidikan yang membawa pengharapan kebaikan dalam diri setiap anak. Menjadi guru bukan semata-mata pengajaran yang hanya mengisi ruang intelektual melainkan juga keterampilan, spiritual, sosial, dan emosional. Itulah mengapa menjadi guru bagiku bagaikan panggilan jiwa. Aku harus belajar mengisi ruang-ruang tersebut dalam diri sendiri terlebih dahulu sebelum patut digugu lan ditiru

Perjalanan panjang ini juga yang cukup menjawab celotehku di masa kecil, bahwa menjadi "Bu Guru" tak cukup dengan sekadar memakai sandal jinjit 😁


Tabik.
Tulungagung, 2023.
Read More

Jumat, 02 September 2022

Berlatih


Saya cerita sedikit tentang salah satu pengalaman melatih pembacaan puisi di Madrasah Ibtidaiyah setara jenjang Sekolah Dasar. Menjelang perlombaan bidang seni di tingkat Kabupaten, saya menggali potensi peserta didik yang pernah menjadi juara 1 perlombaan puisi di tingkat Kecamatan lebih dalam lagi. Saat berlatih membaca puisi bertema Ibu, pada bait yang mengandung kata "Ibu" anak tersebut selalu menangis lalu pembacaan puisi terhenti. Ketika sudah tenang, saya memintanya untuk membaca ulang tetapi pembacaan kembali terhenti. Berganti hari, hal yang sama pun terulang. 

Seandainya dalam pembacaan puisi dia meneteskan air mata sebagai ekspresinya dengan diimbangi kemampuan untuk menyelesaikan pembacaan hingga akhir, maka itu sah-sah saja. Tetapi yang terjadi adalah anak tersebut kesulitan menyelesaikan pembacaan puisi. Oleh sebab itu, untuk mengatasi permasalahan ini maka saya memberikan kesempatan kepadanya menceritakan apa yang membuatnya menangis guna memudahkan saya memahami dan memberikan solusi.

Setelah berdialog, ternyata anak tersebut berimajinasi bahwa tokoh Ibu yang digambarkan dalam puisi adalah Ibu kandungnya. Dia takut kehilangan Ibu sehingga setiap sampai pada bait tersebut, dia menangis dan tidak sanggup menyelesaikan pembacaan. Memang seringkali kita melihat bahwa pada diri anak-anak pergerakan imajinasi begitu bebas dan rasa yang disertakan sangat murni, sehingga apabila sebagai pendidik kurang peka dengan hal-hal semacam itu, emosi anak tidak akan berada pada sasaran yang tepat karena belum adanya kemampuan dalam mengontrol diri. 

Setelah mengetahui apa yang menyebabkannya bersikap demikian, maka saya memberikan arahan dengan cara memotivasi, memberikan cara pandang tentang puisi bahwa pembacaan puisi bukanlah fakta maupun realita kehidupan, tetapi hanya fiktif. Saya meyakinkan anak tersebut bahwa pembaca puisi layaknya pemain drama di atas panggung maupun selebriti dalam sinetron. Apapun peran yang didapatkannya harus diselesaikan dengan baik. 

Syukurlah bisa melihatnya percaya diri saat berdiri di atas panggung, dengan kualitas penghayatan yang menyihir penonton untuk ikut hanyut dalam puisi. Selain itu, anak tersebut meraih Juara 2 Baca Puisi Putra di tingkat Kabupaten 😉

Read More

Senin, 06 September 2021

Prasangka Baik

Meski dalam prosesmu kau sedang penuh peluh, coba lapanglah. Belajar lebarkan dadamu. Persiapkan untuk menerima hal-hal baik yang akan diberikan Tuhan suatu saat nanti seperti janjiNya. Tak perlu menunggu tetapi yakinlah sambil terus berusaha. Bisa jadi yang kelak akan kau tuai adalah pengalaman berharga yang tak dimiliki orang lain, penguatan karakter dirimu, keluarga yang menentramkan, anak-anak yang cerdas dan berbakti, rezeki yang datang tak terduga, pertolongan yang datang tiba-tiba, atau mungkin berupa kejutan yang lain. Bahkan, bisa jadi akan menjelma sebuah bekal indah saat pulang. Entah. Sebab prasangka baik harus tetap terlibat dalam proses menanam apapun itu.


Tulungagung,
6.9.2021

Read More

Sabtu, 15 Februari 2020

Sebuah Pilihan

Kata Albert Camus: 
"kota-kota tumbuh, berkembang, kemudian sirna;
orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, lalu meninggal."

Memang benar. Selalu ada pilihan dalam kehidupan yang kita jalani ini. Maka dalam pilihanku menjalani hidup, aku memilih mencintai orang-orang yang datang dalam hidupku daripada memilih untuk membenci. Meskipun aku tahu akan selalu ada kemungkinan terburuk dalam mencintai, tetapi semoga senantiasa diberikan keteguhan dalam menerima segala takdir. Teguh dalam penerimaan membuat hati tidak mudah untuk membenci. Betapa Yang Maha Cinta mengetahui apa saja yang tersembunyi di kedalaman.

Aku percaya bahwa segala sesuatu yang terniati baik, dilaksanakan dengan tulus dan baik, meskipun terkadang dalam kenyataannya terbalik, aku yakin sentuhan Yang Maha Cinta akan segera mengobati. Bukankah yang menanam akan menuai? 

Aku akan terus belajar berusaha menanam hal-hal baik, menumbuhkan kasih, merawat sayang, mengembangkan maaf, serta berbagi kelembutan semampuku. Seperti namaku. Seperti doa orang tuaku. 
Read More

Jumat, 17 Agustus 2018

bertamasya dalam catatan 8

 

keanekaragaman itu indah. seperti laut. pada bibir pantainya yang elok akan kau dapati perahu-perahu berjajar, ombak berdebur, angin berdesir, nyiur-nyiur melambai, bentangan langit biru dan arakan awan putih, serta kersik pasir yang sebagian basah dan kering. Indonesia juga begitu.

 

daerah perbatasan,

17/8/2018

 

Read More

Rabu, 13 September 2017

bertamasya dalam catatan 7

 

aku memiliki banyak cara untuk menunggumu, salah satunya meracik secangkir teh di pagi hari. apa kau ingat jumlah hari yang telah kau bawa pergi? sejumlah itulah teh yang berhasil kuracik sendiri. orang bilang, akulah peracik teh handal itu. sebutan yang membuatku geli. kau tahu mengapa? karena orang hanya melihat jumlah teh yang kuracik berdasarkan jutaan detik yang kulewati. sedangkan perihal rasa mereka tak tahu. hanya kau yang boleh tahu. pun hanya kau yang pantas menilai sebutan itu cocok atau tidak untukku. jadi jika kelak kau pulang, kusajikan padamu racikan teh yang paling akhir. sebab di sanalah terkabul segala pengharapan tentang kepulanganmu.


surabaya,

13/9/2017

Read More

Rabu, 02 Agustus 2017

bertamasya dalam catatan 6

 

menemukan suatu jalan di kota ini jauh lebih sulit daripada menuju hatimu. sungguh. untuk menemukan suatu jalan di kota ini aku membutuhkan kamu, peta, dan arah mata angin. sedangkan untuk sampai ke hatimu itu hanyalah keinginan. padahal, kota ini tak lebih besar daripada hatimu. tak lebih luas daripada hatimu. sedangkan jalan untuk menuju hatimu itu sangatlah beranekaragam dan pelik. aku harus melewati terowongan angker tempat masa lalumu terkubur, melompati kubangan luka-luka yang kau miliki, menyusuri hutan rimba, rawa-rawa, lembah bebukit, gurun pasir, juga bertahan terhadap segala cuaca yang menerpa. tetapi, aku sanggup menuju hatimu. sendiri. hanya berbekal keinginan.


surabaya,

2/8/2017

Read More

Selasa, 08 Maret 2016

Sabtu, 09 Mei 2015

Selasa, 18 November 2014

bertamasya dalam catatan 3

 

kata para pecinta, di dunia ini Tuhan
menciptakan tiga butir purnama.
aku melihat yang sebutir menggantung di langit malam,
sedangkan sisanya entah di mana.
mungkinkah dua butir bulatan sempurna yang bersinar di matamu itu?


tulungagung

18/11/2014

Read More

Selasa, 17 September 2013

Sabtu, 07 September 2013