Pertanyaan yang mendalam bagiku. Sampai pada beberapa kesempatan tak bisa kuucapkan rinci dalam verbal. Bagaimana tidak, pemaknaan ini melibatkan pengalaman hidupku sejak kecil. Secara fisik, semua berawal saat aku melihat saudara-saudara ibu yang menjadi guru sedangkan ibuku tidak. Begitupun dengan bapak, mengenyam pendidikan guru tetapi tidak berjodoh dengan profesi ini. Seorang guru dalam pandanganku saat masih kecil adalah pekerjaan yang cukup keren karena memakai seragam dan sepatu hak tinggi. Sandal jinjit adalah sebutanku untuk sepatu hak tinggi saat itu. Ibu pernah bercerita, saat belum memasuki usia sekolah aku bermain ke rumah budhe dan memakai sandal jinjit sambil berceloteh, "Buk, gawe sandal jinjit ben dadi guru." Lalu seluruh keluarga dalam ruangan tertawa 😂
Lingkungan tempat tinggalku juga dekat dengan sekolah. Setiap hari mengamati bagaimana lalu lalang orang tua yang mengantar dan menjemput anak, bagaimana tingkah anak-anak sekolah, dan apa saja kegiatan guru di sekolah. Saat jenjang sekolah dasar aku juga bersekolah di sini. Terlepas bagaimana peran bapak, setidaknya aku sendiri terlibat uluk salam mengingat perjuangan leluhur demi kepentingan pendidikan di lingkungan sekitar. Sekolah yang berada di samping rumah hanya berbatas tembok dan dulu belum setinggi garasi truk yang berada di depan. Masa kecilku yang tomboi memilih berangkat dan pulang sekolah dengan melompat tembok samping saja daripada berjalan ke depan melewati gerbang sekolah 😅
Memasuki jenjang sekolah menengah pertama, aku bersekolah di kota yang berjarak 15 kilometer dari rumah. Aku diajarkan untuk belajar mandiri di pesantren. Jarak pesantren ke sekolah sekitar 700 meter. Aku yang paling kecil saat itu, menstruasi saja belum. Saat mengikuti kegiatan mengaji kitab juga sering tertidur. Melihat mbak-mbak santri di jenjang sekolah menengah atas dan perguruan tinggi memiliki kompor dan sering memasak, aku meminta untuk dibelikan kompor dan peralatan memasak. Namun, kompor yang diberikan bapak berukuran jauh lebih kecil dan bersumbu pendek dibandingkan yang lain. Warna kompor itu biru, dari kejauhan seperti kompor mainan. Kupakai untuk pertama kali memasak nasi, ngetim, tetapi gosong karena belum bisa mengukur kapan nasi ini matang 😑
Saat kelas 9 aku mendapat tugas dari Bu Nyai untuk mengurus dua anak kecil kakak adik setiap pulang sekolah. Anak perempuan kelas 1 SD dan anak laki-laki TK kecil. Setiap pulang sekolah aku bergegas memandikan mereka berdua, memakaikan baju, mengambilkan makanan di ndalem dan terkadang menyuapi, serta menemani mereka belajar. Mengurus mereka sangat mengaduk-aduk kesabaranku. Jujur saja, seusia mereka aku sudah melakukan aktifitas tersebut sendiri kecuali menyiapkan makanan. Saat adzan ashar berkumandang, aku meninggalkan mereka untuk berjamaah lalu mengikuti kegiatan mengaji di masjid. Sekitar pukul 5 sore ayah kedua anak itu menjemput. Dulu aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku yang kecil mendapat tugas mengurus anak kecil, mengapa bukan mbak santri yang lebih cakap dan dewasa atau santri ndalem. Ternyata, pengalaman sebentar itu yang kini membuatku mengerti tentang arti ibu dan guru. Al-Fatihah untuk Bu Nyai 💚
Ada hal yang membuatku berbelok arah setelah jenjang sekolah menengah kejuruan menuju perguruan tinggi. Aku memilih jurusan apa yang menjadi kesukaanku dan bertanggung jawab atas itu. Memang semua tidak semudah membalikkan telapak tangan apalagi di tengah gempuran masa puber yang penuh ambisi dan idealisme, tetapi itulah serangkaian proses pendewasaan yang membuatku tidak sembarangan dalam memutuskan sesuatu. Guru bahasa Indonesia dan guru seni budaya di sekolah sangat menginspirasi, aku juga menemu keindahan itu 💚
Guru bagiku adalah profesi mulia. Sebuah kontribusi di dunia pendidikan yang membawa pengharapan kebaikan dalam diri setiap anak. Menjadi guru bukan semata-mata pengajaran yang hanya mengisi ruang intelektual melainkan juga keterampilan, spiritual, sosial, dan emosional. Itulah mengapa menjadi guru bagiku bagaikan panggilan jiwa. Aku harus belajar mengisi ruang-ruang tersebut dalam diri sendiri terlebih dahulu sebelum patut digugu lan ditiru.
Perjalanan panjang ini juga yang cukup menjawab celotehku di masa kecil, bahwa menjadi "Bu Guru" tak cukup dengan sekadar memakai sandal jinjit 😁
Tabik.
Tulungagung, 2023.