tentang menyelami diri

Rabu, 08 November 2023

Perjalanan Puisi

Dokumentasi Instagram Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd.

Saya cerita sedikit tentang perjalanan puisi berjudul "Balon Berwarna" yang cukup unik. Sudah jauh-jauh hari saya berniat menulis puisi dalam perlombaan bertema "Ibu dan Guru" ini, tetapi saat itu ilham puisi tak kunjung mengguyur kepala. Pengerahan ide dan batin dengan pemaksaan pun tak kunjung tertuang, alhasil saya menutup laptop dan berlalu.

Berganti hari, sepulang dari luar kota saya kembali teringat perlombaan ini. Tanggal 6 November tepat di hari terakhir pengiriman puisi, sekitar pukul 8 atau 9 pagi, tebersit balon warna-warni. Tanpa pikir panjang saya bergegas membuka laptop dan proses pun berbeda, segalanya mengalir sebagaimana mestinya. Puisi pun berhasil terkirim.

Tanggal 8 November kemarin ternyata "Balon Berwarna" sampai ke tempat tujuan dengan bahagia. Hampir 2700 puisi yang diseleksi oleh Tim Juri dan "Balon Berwarna" termasuk 57 puisi yang menjadi bagian dari Antologi Puisi "Pelayan Ibu Pelayan Guru". Selebihnya, 10 terbaik. Silakan geser untuk menemukan abjad terakhir. Z 😆

Terima kasih Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek. Selamat Ulang Tahun, Ibu. Selamat atas Peluncuran Antologi Puisi ini. Terima kasih sudah memberikan kesempatan bagi guru-guru di Indonesia untuk terus berkarya.

Zain Rochmati Ningsih
Lulusan PPG Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2022
Universitas Negeri Malang


Kabar serupa di pranala berikuthttps://www.klikpendidikan.id/pendidikan/35810920615/10-nama-terbaik-lomba-cipta-puisi-tema-ibu-dan-guru-dapat-hadiah-langsung-oleh-dirjen-gtk-kemendikbud-ristek-nunuk-suryani-selamat-yah?page=2

Read More

Kamis, 17 Agustus 2023

Dirgahayu RI


Bulan Agustus menjadi bulan yang sarat makna bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Momentum ini mengingatkan kita dengan perjuangan para pahlawan yang gigih merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajah.

Di bulan ini pula Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri. Menggugah semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan masyarakat. Berbagai kegiatan peringatan seperti upacara bendera, lomba-lomba tradisional, dan berbagai acara budaya digelar untuk merayakan semangat kemerdekaan. 

Segala bentuk kemeriahan kemerdekaan juga dilengkapi dengan tulisan-tulisan ungkapan ulang tahun untuk Indonesia. Sayangnya, tulisan-tulisan tersebut masih banyak yang belum tepat. Contoh yang sering kita temukan yaitu penulisan HUT RI Ke-78, padahal penulisan yang tepat adalah HUT Ke-78 RI. Mengapa demikian? Karena Republik Indonesia hanya satu, yang berulang-ulang adalah hari ulang tahunnya. 

Contoh lain yang sering kita temukan yaitu Dirgahayu HUT Republik Indonesia, penulisan yang tepat adalah Dirgahayu Republik Indonesia. Kata "dirgahayu" itu kata sifat yang memiliki arti berumur panjang, yang mana biasa ditujukan untuk negara yang sedang memperingati hari ulang tahunnya.

Berikut penulisan yang tepat:
HUT Ke-78 RI
Selamat Hari Ulang Tahun Ke-78 RI
Peringatan Ulang Tahun Ke-78 RI
Ulang Tahun Ke-78 Republik Indonesia
Hari Ulang Tahun Ke-78 Republik Indonesia
Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia
Dirgahayu RI
Dirgahayu Republik Indonesia

Nah, tahun depan jangan sampai salah tulis ya. Bahasa Indonesia itu jati diri bangsa. Jadikanlah peringatan kemerdekaan sebagai momen untuk mengenang sejarah heroik bangsa dan sebagai panggilan untuk terus menjaga serta memajukan Indonesia demi masa depan yang lebih baik. Merdeka!


Tulungagung, 17 Agustus 2023

Read More

Minggu, 12 Maret 2023

Mengapa Aku Menjadi Guru


Pertanyaan yang mendalam bagiku. Sampai pada beberapa kesempatan tak bisa kuucapkan rinci dalam verbal. Bagaimana tidak, pemaknaan ini melibatkan pengalaman hidupku sejak kecil. Secara fisik, semua berawal saat aku melihat saudara-saudara ibu yang menjadi guru sedangkan ibuku tidak. Begitupun dengan bapak, mengenyam pendidikan guru tetapi tidak berjodoh dengan profesi ini. Seorang guru dalam pandanganku saat masih kecil adalah pekerjaan yang cukup keren karena memakai seragam dan sepatu hak tinggi. Sandal jinjit adalah sebutanku untuk sepatu hak tinggi saat itu. Ibu pernah bercerita, saat belum memasuki usia sekolah aku bermain ke rumah budhe dan memakai sandal jinjit sambil berceloteh, "Buk, gawe sandal jinjit ben dadi guru."  Lalu seluruh keluarga dalam ruangan tertawa 😂 

Lingkungan tempat tinggalku juga dekat dengan sekolah. Setiap hari mengamati bagaimana lalu lalang orang tua yang mengantar dan menjemput anak, bagaimana tingkah anak-anak sekolah, dan apa saja kegiatan guru di sekolah. Saat jenjang sekolah dasar aku juga bersekolah di sini. Terlepas bagaimana peran bapak, setidaknya aku sendiri terlibat uluk salam mengingat perjuangan leluhur demi kepentingan pendidikan di lingkungan sekitar. Sekolah yang berada di samping rumah hanya berbatas tembok dan dulu belum setinggi garasi truk yang berada di depan. Masa kecilku yang tomboi memilih berangkat dan pulang sekolah dengan melompat tembok samping saja daripada berjalan ke depan melewati gerbang sekolah 😅

Memasuki jenjang sekolah menengah pertama, aku bersekolah di kota yang berjarak 15 kilometer dari rumah. Aku diajarkan untuk belajar mandiri di pesantren. Jarak pesantren ke sekolah sekitar 700 meter. Aku yang paling kecil saat itu, menstruasi saja belum. Saat mengikuti kegiatan mengaji kitab juga sering tertidur. Melihat mbak-mbak santri di jenjang sekolah menengah atas dan perguruan tinggi memiliki kompor dan sering memasak, aku meminta untuk dibelikan kompor dan peralatan memasak. Namun, kompor yang diberikan bapak berukuran jauh lebih kecil dan bersumbu pendek dibandingkan yang lain. Warna kompor itu biru, dari kejauhan seperti kompor mainan. Kupakai untuk pertama kali memasak nasi, ngetim, tetapi gosong karena belum bisa mengukur kapan nasi ini matang 😑

Saat kelas 9 aku mendapat tugas dari Bu Nyai untuk mengurus dua anak kecil kakak adik setiap pulang sekolah. Anak perempuan kelas 1 SD dan anak laki-laki TK kecil. Setiap pulang sekolah aku bergegas memandikan mereka berdua, memakaikan baju, mengambilkan makanan di ndalem dan terkadang menyuapi, serta menemani mereka belajar. Mengurus mereka sangat mengaduk-aduk kesabaranku. Jujur saja, seusia mereka aku sudah melakukan aktifitas tersebut sendiri kecuali menyiapkan makanan. Saat adzan ashar berkumandang, aku meninggalkan mereka untuk berjamaah lalu mengikuti kegiatan mengaji di masjid. Sekitar pukul 5 sore ayah kedua anak itu menjemput. Dulu aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku yang kecil mendapat tugas mengurus anak kecil, mengapa bukan mbak santri yang lebih cakap dan dewasa atau santri ndalem. Ternyata, pengalaman sebentar itu yang kini membuatku mengerti tentang arti ibu dan guru. Al-Fatihah untuk Bu Nyai 💚

Ada hal yang membuatku berbelok arah setelah jenjang sekolah menengah kejuruan menuju perguruan tinggi. Aku memilih jurusan apa yang menjadi kesukaanku dan bertanggung jawab atas itu. Memang semua tidak semudah membalikkan telapak tangan apalagi di tengah gempuran masa puber yang penuh ambisi dan idealisme, tetapi itulah serangkaian proses pendewasaan yang membuatku tidak sembarangan dalam memutuskan sesuatu. Guru bahasa Indonesia dan guru seni budaya di sekolah sangat menginspirasi, aku juga menemu keindahan itu 💚 

Guru bagiku adalah profesi mulia. Sebuah kontribusi di dunia pendidikan yang membawa pengharapan kebaikan dalam diri setiap anak. Menjadi guru bukan semata-mata pengajaran yang hanya mengisi ruang intelektual melainkan juga keterampilan, spiritual, sosial, dan emosional. Itulah mengapa menjadi guru bagiku bagaikan panggilan jiwa. Aku harus belajar mengisi ruang-ruang tersebut dalam diri sendiri terlebih dahulu sebelum patut digugu lan ditiru

Perjalanan panjang ini juga yang cukup menjawab celotehku di masa kecil, bahwa menjadi "Bu Guru" tak cukup dengan sekadar memakai sandal jinjit 😁


Tabik.
Tulungagung, 2023.
Read More

Jumat, 02 September 2022

Berlatih


Saya cerita sedikit tentang salah satu pengalaman melatih pembacaan puisi di Madrasah Ibtidaiyah setara jenjang Sekolah Dasar. Menjelang perlombaan bidang seni di tingkat Kabupaten, saya menggali potensi peserta didik yang pernah menjadi juara 1 perlombaan puisi di tingkat Kecamatan lebih dalam lagi. Saat berlatih membaca puisi bertema Ibu, pada bait yang mengandung kata "Ibu" anak tersebut selalu menangis lalu pembacaan puisi terhenti. Ketika sudah tenang, saya memintanya untuk membaca ulang tetapi pembacaan kembali terhenti. Berganti hari, hal yang sama pun terulang. 

Seandainya dalam pembacaan puisi dia meneteskan air mata sebagai ekspresinya dengan diimbangi kemampuan untuk menyelesaikan pembacaan hingga akhir, maka itu sah-sah saja. Tetapi yang terjadi adalah anak tersebut kesulitan menyelesaikan pembacaan puisi. Oleh sebab itu, untuk mengatasi permasalahan ini maka saya memberikan kesempatan kepadanya menceritakan apa yang membuatnya menangis guna memudahkan saya memahami dan memberikan solusi.

Setelah berdialog, ternyata anak tersebut berimajinasi bahwa tokoh Ibu yang digambarkan dalam puisi adalah Ibu kandungnya. Dia takut kehilangan Ibu sehingga setiap sampai pada bait tersebut, dia menangis dan tidak sanggup menyelesaikan pembacaan. Memang seringkali kita melihat bahwa pada diri anak-anak pergerakan imajinasi begitu bebas dan rasa yang disertakan sangat murni, sehingga apabila sebagai pendidik kurang peka dengan hal-hal semacam itu, emosi anak tidak akan berada pada sasaran yang tepat karena belum adanya kemampuan dalam mengontrol diri. 

Setelah mengetahui apa yang menyebabkannya bersikap demikian, maka saya memberikan arahan dengan cara memotivasi, memberikan cara pandang tentang puisi bahwa pembacaan puisi bukanlah fakta maupun realita kehidupan, tetapi hanya fiktif. Saya meyakinkan anak tersebut bahwa pembaca puisi layaknya pemain drama di atas panggung maupun selebriti dalam sinetron. Apapun peran yang didapatkannya harus diselesaikan dengan baik. 

Syukurlah bisa melihatnya percaya diri saat berdiri di atas panggung, dengan kualitas penghayatan yang menyihir penonton untuk ikut hanyut dalam puisi. Selain itu, anak tersebut meraih Juara 2 Baca Puisi Putra di tingkat Kabupaten 😉

Read More

Senin, 06 September 2021

Prasangka Baik

Meski dalam prosesmu kau sedang penuh peluh, coba lapanglah. Belajar lebarkan dadamu. Persiapkan untuk menerima hal-hal baik yang akan diberikan Tuhan suatu saat nanti seperti janjiNya. Tak perlu menunggu tetapi yakinlah sambil terus berusaha. Bisa jadi yang kelak akan kau tuai adalah pengalaman berharga yang tak dimiliki orang lain, penguatan karakter dirimu, keluarga yang menentramkan, anak-anak yang cerdas dan berbakti, rezeki yang datang tak terduga, pertolongan yang datang tiba-tiba, atau mungkin berupa kejutan yang lain. Bahkan, bisa jadi akan menjelma sebuah bekal indah saat pulang. Entah. Sebab prasangka baik harus tetap terlibat dalam proses menanam apapun itu.


Tulungagung,
6.9.2021

Read More